bloom

flash

Sunday, September 4, 2016

JOGJAKARTA, KOTA PELAJAR, KOTA TERPELAJAR



Maret 2015 kala itu libur nasional dan cuti bersama 3 hari dan kugabung dengan cutiku 2 hari, biasa flashpacker again hehe. Ketika itu aku belum punya hasrat untuk keluar negeri karena belum ada teman yang mengajak dan memang benar-benar masih newbie

Ketika itu aku teringat dengan kenalan teman dari grup ku (tari india) yang tinggal di Jogjakarta yang dulu pernah ikut modelling. Aku sempat bertukar kontak bbm dengannya dan dulu sering chatting ketika dia masih di Palembang. Aku coba lagi kirim pesan ke bbm nya, dan sialnya ternyata kontak nya sudah tak aktif lagi. Ya sudahlah, kupikir mungkin belum waktunya ke Jogjakarta yang sangat terkenal di Indonesia. 

Selang 3 bulan aku iseng mencari namanya di Facebook, hurrah I got it, akhirnya aku menemukan akun Fbnya (jingkrak-jingkrak kayak anak TK dapat mainan baru), segera saja kuadd dan kirim pesan. Sayangnya tak segera dapat tanggapan, bahkan dalam sebulan dua bulan belum ada balasan. Mungkin sama seperti bbm nya akun ini pun sudah tak aktif lagi pikirku (sambil banting HP di kasur, bukan di lantai ya). Ok lah, mungkin ke kota lain dulu. 

Waktu libur pun tinggal seminggu lagi, akhirnya aku putuskan ke Jakarta lagi saja, berhubung mau menemui saudara juga. Tiketpun telah terbeli, aku baru membeli tiket pergi tanpa beli tiket balik, entah sebagai petunjuk atau bukan. Setelah tiket terbeli selang beberapa hari temanku pun membalas pesan Facebook ku, what???? “maaf bro baru dibales, hpku baru selesai perbaikan, ditunggu kalau mau ke Jogjakarta”, damn jadi galau kita (elo aja kaleek), ternyata ini mungkin alasan aku cuma beli tiket pergi saja ke Jakarta.
Awalnya ragu mau ke Jogja atau tidak (tapi cintaku kepadamu tidak akan ragu #eh). Soalnya cuma 5 hari, itu juga dipotong 1 hari waktu keberangkatan, efektifnya Cuma 4 hari. Kenapa tidak kucoba pikirku, 2 hari Jakarta 2 hari Jogjakarta, toh aku sudah pernah juga ke Jakarta, cuma akan berkutat dengan macet. Walaupun cuma 2 hari kurasa worth it untuk dicoba, ya kalau memang nantinya terasa kurang lama berarti kode alam buat balik lagi, yups itu prinsipku. Dan fixed, tiket pun terbeli Jakarta-Jogjakarta dan pulang dari Jogjakarta-Palembang.


TERJEBAK MACET JAKARTA DI TENGAH MALAM

Hari keberangkatan pun tiba, dengan riang gembira aku pun melaju bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang untuk ke Jakarta (walaupun harus meninggalkan fans setiaku #ngingau). Seharusnya jam 8 malam keberangkatan, pesawatnya molor sampai jam 10 malam, dongkol kesel pastinya. Saudaraku @akang_cepot (Ryudha) berjanji akan menjemputku sepulangnya acara ultah temannya di Bekasi.
Aku sudah sepakat akan naik bus Damri dari bandara Soekarno Hatta ke Gambir (baru tahu ada moda ini hehe). Cuaca sedang tidak bersahabat, hujan deras dan penerbangan yang delay hampir 3 jam membuatku sampai di bandara lebih lambat, sekitar jam 11 malam. Si Ryu masih menungguku, aku sudah tidak enak hati karena sudah sangat terlambat. Biasanya perjalanan ke Gambir tak sampai 1 jam. Tapi ternyata........jreng jreng jalanan ada beberapa yang lumayan banjir. Dan macet panjang pun terjadi. Kalau ada yang bilang “Jakarta Macet” itu bukan rekayasa, bahkan di tengah malam pun aku terjebak.
Finally, 2 jam kemudian aku baru sampai, karena tak enak hati (again) kusuruh saudaraku untuk ketemuan aja besoknya. Akupun memutuskan untuk mencari hotel di sekitaran stasiun Gambir. Kupanggil seorang bajaj, dia meminta Rp.30.000,- (cukup mahal). Karena sudah malam dan males untuk tawar menawar aku langsung saja naik. Jadinya aku diberentikan di sebuah guest house di daerah Jalan Jaksa. Meskipun tengah malam jalanan ini ramai oleh bule-bule dan orang-orang yang kemungkinan pelancong. Karena sudah terlalu capek, akupun langsung tidur saja.
Paginya, aku langsung naik taksi ke tempat kosan Ryu, di lantai 5, dan lift mati, terpaksa naik tangga (hadeh). Setelah bertemu kami langsung jalan, aku minta dianter ke Tanah Abang untuk suatu urusan (belanja). Lucunya malah si Ryu ini tidak mengerti seluk beluk Tanah Abang, malah aku yang jadi guide. Sorenya kami cari makan, berhubung ramai aku bilang kepada Ryu cari yang sepi aja, dapat dan rasanya amburadul, pantesan sepi. Setelah selesai kami dijemput pacarnya (sekarang alhamdulillah sudah jadi istrinya, dan sudah punya 1 anak yang cantik), kamipun pulang kembali ke kosan. Malamnya kami sempat makan bersama dan bercengkrama, karena sesama pencinta India obrolan kami banyak tentang film-film dan lagu-lagu India. Sempat juga aku mencoba nasi Sambal Setan. Pedesnya juara banget, ga kuat,yang makan tidak ada yang cantik atau ganteng, pada jelek semua mukanya haha.


JOGJAKARTA, I ADORE YOU

Besoknya akupun pamit terbang ke Jogjakarta, gugup dan bersemangat akupun sampai di Jogjakarta. Berhubung temanku si @berryalfiqru sedang dalam perjalanan dari Jepara ke Jogja, alhasil aku dititipkan dulu dengan temannya yang bekerja sebagai barista di bandara namanya Erda (ga nemu instragramnya hehe).
Aku naik taksi ke tempat kosnya Erda, setibanya disana selesai istirahat aku diajaknya makan siang. Aku diajak makan di kedai sederhana, aku memilih makan dengan lauk lele dan sambel dan minum es teh manis. Setelah makan, aku menyiapkan uang 50ribuan karena standar di Palembang kalau berdua segitu, bahkan bs lebih. Setelah bertanya berapa yang harus dibayar, san empu nya pun bilang “dua puluh tiga ribu dek”, apaaaaaaa (ekspresi kaget seperti di sinetron). Aku tak salah dengar kan.  Ternyata benar segitu, dan aku keduluan si Erda, dia sudah membayarkan duluan, baik banget deh nih orang ga kayak aku

Menjelang sore, temanku si Berry pun datang, masih kelihatan capek dia pun dengan motor gedenya membawaku ke rumahnya. Kami pun sama-sama beristirahat karena sama-sama dari perjalanan. Sekitar pukul 7.30 malam Berry pun mengajakku keluar. Pertama-tama aku diajaknya di sebuah cafe, disini ternyata dah janjian juga sama si Erda. Erda bersama-sama temannya yang rata-rata barista coffe, obrolan merekapun kebanyakan tentang kopi yang banyak tak kumengerti. Setelah mereka panjang lebar menjelaskan tentang kopi, ketika aku ditanya mau pesan apa aku malah memesan “fresh milk”, mereka langsung mesem-mesem. 
Candi Prambanan

Selesai dari cafe aku dan Berry pamit untuk jalan-jalan berdua. Sepanjang perjalanan, aku takjub, ya takjub, alangkah rapinya kota ini, begitu teraturnya, tidak ada yang saling serobot di jalan, orangnya juga sangat ramah-ramah dan santun, benar-benar kota pelajar dan orang-orang yang terpelajar menurutku. Kamipun sampat di alun-alun, disini aku ditantangnya untuk melewati ke tengah-tengah dua tembok dengan memejamkan mata. Mudah sajalah kupikir, soalnya jalannya terlihat di depan, tinggal lurus doang, walaupun mata ditutupin juga pasti bisa. Akupun maju dengan mata ditutupin kain, temenku mengikuti dari belakang sambil menuntun (tidak mengarahkan) kalau-kalau aku salah injak. Akhirnya si Berry bilang “stop” dan aku membuka penutup mataku, tadaaaaa aku berbelok ke kanan, jauh sekali, kukucek mataku kalau-kalau aku salah lihat, dan aku ternyata memang berbelok ke kanan.
Prambanan (2) with Berry

Si Berry berkata padaku, menurut kepercayaan orang disana kalau kita berfikir jernih dan bertekad akan sesuatu kita akan dapat meraih yang kita inginkan dengan segera kalau bila melalui ditengah dua tembok itu. Tak sadar rupanya tempat itu sangat terasa mistis. Aku mencoba untuk kedua kalinya, kali ini aku menghapus kesombonganku dan benar-benar bertekad untuk bisa melewatinya, akhirnya aku berhasil di percobaan yang kedua ini. Aku melihat banyak yang lain mencoba juga, ada yang sangat jauh berbelok sampai-sampai hampir ke jalan raya haha. Si Berry kaget aku bisa, ternyata dia sampai sekarang tak pernah berhasil melewati tembok itu, dan beberapa temannya juga tak pernah berhasil di kali kedua, aku beruntung (jingkrak-jingkrak).
Abaikan yang pegang payung haha (ini mas "bule" ya yang minta foto bareng bukan saya)

Kamipun pulang dan kembali beristirahat sampai besok paginya. Hari kedua aku di Jogja aku diajak ke Candi Prambanan, Subhanallah ucapku, benar-benar beda melihat gambar dan melihat langsung dengan mata kepala sendiri. Di dalamnya banyak juga terdapat candi-candi lain, aku terfokus di candi prambanan mataku tak berenti memandangi tiap-tiap inchi dari tiap sudut candi prambanan. Di dalam tiap-tiap candi ini ada patung-patung dewa Hindu, aku tak terlalu berani masuk, karena gelap dan bagiku agak terasa mistis, mungkin karena menurut legendanya pembuatan candi-candinya dibantu oleh jin. 

Selesai dari Prambanan kami ke Jalan Malioboro, kata orang tak lengkap rasanya kalau ke Jogjakarta tapi tak berfoto di jalan ini. Disini banyak pedagang yang menjajakan oleh-oleh khas Jogjakarta. Aku juga diajak ke tempat yang menjual batik dan proses pembuatan batik, bertamba lagi kekagumanku akan kota khusus ini. Tak lupa akupun membeli beberapa buah tangan yang akan kubagikan untuk keluarga dirumah.
Wajib foto disini kalau ke Jogjakarta
Selesai darisana aku sebenarnya ingin melihat candi Borobudur, karena sudah mau gelap kamipun hanya jalan-jalan ke mall dan cafe dekat-dekat rumah. Akupun membatin, harus kesini lagi suatu saat untuk Borobudur dan Parangtritis. Sebelum sampai di rumah Berry, aku ingin coba nasi angkringan dan gudek yang sudah sangat dikenal. Nasi angkringan dijual cuma seribu rupiah, isinya mirip-mirip nasi kucing tapi lebih banyak, sumpah cuma dua ribu sudah bs kenyang loh, benar-benar pelajar deh budget disini hehe. Gudek pun juga aku nikmati, benar-benar lidahku merakyat deh kalau soal makan, mau menu apapun kebanyakan cocok-cocok aja haha. Kamipun akhirnya kembali pulang dan tidur. 

Besok paginya akupun pamit dengan Berrry dan keluarganya dan terbang ke Palembang. Aku pasti kembali lagi ke Jogjakarta, kota yang ngangenin.

Dont stop dreaming because everything comes from dream.

0 comments:

Post a Comment