bloom

flash

Tuesday, September 27, 2016

KEJUTAN DI KUALA LUMPUR





Kali ini aku ingin menulis cerita pertama kalinya aku ikut penerbangan keluar negeri, tepatnya di negara tetangga Malaysia yang sering bertegangan dengan negara kita. Sebelumnya sih aku tidak terlalu tertarik untuk melanglang buana di negeri orang, karena seperti kebanyakan orang aku berfikir “kenapa harus keluar negeri, toh negeri kita sendiri semuanya lebih indah”. Pemikiran itu sedemikian cepat berubah ketika sudah mencoba menjelajahi sendiri negara yang dikenal dengan semboyan truly Asia, tepatnya Kuala Lumpur. 


Setelah tiket dan passport di tangan akhirnya kami pun berangkat, total peserta yang berangkat 9 orang *dah kayak mau camping haha. Saat sampai disana kami menghabiskan 5 hari dan 4 malam menyusuri Kuala Lumpur. Banyak pengalaman yang tak terlupakan selama disini, selain menyenangkan aku juga banyak dapat kejutan selama disini. Berikut beberapa hal yang sangat terasa berbeda selama aku disana:

Pertama, Perbedaan waktu.  Berhubung aku pernah ke Bali (cerita lengkap di Bali klik disini), jadi sudah pernah merasakan perbedaan waktu antar dua kota, di Palembang dan Bali berbeda satu jam dimana Bali lebih cepat satu jam dari Palembang. Hanya saja meskipun ada perbedaan, tapi terang dan gelapnya tidak terlalu berbeda. Misalkan biasanya jam 6 petang sudah mulai gelap di Kuala Lumpur jam 7 saja masih terang benderang. Paginya juga sempat kaget, biasanya jam 7 pagi aku keluar mencari sarapan kalau sudah di kota lain, disini malah masih gelap gulita *ngeri coy keluar sendiri, nanti ada yang culik #plak.

Kedua, citarasa kuliner. Di tiap kota yang kukunjungi, aku selalu mencoba kuliner setempat, dan dari beberapa kota di Indonesia, rasanya sih aku cocok-cocok saja. Lain halnya di Kuala Lumpur ini, aku mencoba beberapa makanan khas disana, dan tadaaaa aku tidak terlalu cocok *tapi semuanya tetap habis kumakan. Menurutku sih kurang terasa rempah-rempah seperti halnya masakan Indonesia, dan juga kurang tajam dari segi rasa, ya lain tempat lain pula citarasanya. Mungkin sudah terbiasa dengan masakan Indonesia.

Karena kurang cocok dengan masakan setempat, akupun mencoba memesan masakan Indonesia, dan again, bagiku tetap tidak berasa senikmat masakan real Indonesia, dan ujung-ujungnya aku banyak makan masakan India dan Arab selama di Kuala Lumpur, karena bagiku lebih berasa bumbu dan rempahnya. Disini aku bersyukur bisa menjadi warga negara Indonesia yang kaya akan kulinernya.

Ketiga, bahasa. Pertama kali datang, kupikir bahasa Melayu Kuala Lumpur dan bahasa Indonesia tidak akan terlalu sulit, karena toh serumpun *pasti deh ga perlu banyak cas cis cus bahasa inggris. Tapi setelah bertemu beberapa penduduk Lokal malah banyakan keturunan India, Bangladesh, Tiongkok, Pakistan. Jreng jreng harus bahasa Inggris?????? Benar sekali, tapi don’t worry nggak harus super aktif di film-film ala Amerika kayak Empire, America’s Next Top Model, Fashion Fund, Master Chef, Suburgatory, Two Broke Girls, How I met Your Mother *sebutin deh semua mas, biar semua tahu suka nonton channel mana :D.

Faktanya meskipun bahasa Inggrisku masih patah-patah *Anisa Bahar kali. Aku lancar-lancar saja selama disana, yang penting selalu percaya diri untuk berbicara. Dan aku juga bertemu beberapa lokal dan mencoba berbicara dan memahami bahasa Melayu. Sama saja, tetap pusing (kalau disana artinya “putar”), tetap aku lebih banyak menggunakan Inggris untuk berkomunikasi.

Keempat, transportasi. Kalau dari segi transportasi, aku speechles, sungguh maju sekali di Kuala Lumpur. Semua sudah terkoordinir, terintegrasi, futuristik. Intinya kita dipermudah untuk kemana-mana. Mau ke sekitara KLCC, Bukit Bintang, Pasar Seni ada bus gratis yang disebut go KL. Meskipun ditujukan untuk turis agar mudah mengekplorasi Kuala Lumpur, warga lokal juga menggunakan moda ini. Kalau ingin kemana-mana tinggal menuju KL Sentral, dan segala jenis transportasi ada disini, mulai dari LRT, Monorail, KMT dan lain-lain ada disini. Empat jempol deh. Coba kalau di Indonesia seperti ini, pasti lebih banyak wisatawan yang akan berkunjung. Go Indonesia.

Kelima, masyarakat modern yang teratur. Selama di Kuala Lumpur saya sempat memperhatikan di jalan rayanya, tidak sekalipun aku mendengar suara klakson di tengah jalan. Meskipun dalam keadaan macet panjang. Karena penasaran kutanyakan pada teman disana, katanya klakson tidak diperbolehkan kecuali untuk keadaan darurat. Di jalan lintas kota juga ada peraturan untuk mobil-mobil besar seperti tronton agar selalu berada di jalur kiri. Meskipun dalam keadaan sepi, mobil-mobil ini akan selalu berada di jalur kiri. Sekali lagi aku berdecak kagum untuk kesadaran masyarakat disini. 

Itulah beberapa kejutan yang kutemukan sendiri disana. Sejak pertama kali ini, aku jadi suka dengan kota ini, dan semoga kota di Indonesia suatu hari tak kalah canggih dari Kuala Lumpur. Mari sama-sama membahu memberi perubahan dengan memulai dari diri pribadi agar lebih teratur dan menjaga lingkungan kita. Memberi kesan yang indah pada setiap pelancong yang datang ke kota dan negeri kita. Mari dukung gerakan Wonderful Indonesia.

Don’t stop dreaming because everything comes from dream.

4 comments:

  1. Uhuy, bagus ini tulisannyo. Terus menulis!

    omnduut.com

    ReplyDelete
  2. Wah, ada bus gratis ya keliling KL. Baru tau #nyesel bus gratis ini naiknya dari mana aja ya? Aku nggak liat #pusingmuter2 #teparkaki

    ReplyDelete
    Replies
    1. banyak kok mbak, di pasar seni, kl sentral, bukit bintang

      Delete