bloom

flash

Wednesday, November 9, 2016

PHUKET TRIP : Ketika Sakit Disaat Travelling



Setelah pernah bersama-sama bersenang-senang menyusuri Kuala Lumpur, Malaysia. Pada suatu hari di sela-sela jam istirahat kerja, sahabat baikku Krisna Citra Negara, kembali menawarkan untuk trip bareng ke Phuket Thailand. Tentunya saat itu sedang ada promo dari maskapai Air Asia --duh racunnya kuat banget deh*. Setelah cek harga dan tanggal (kembali dengan cara flashpacker) akupun setuju dan segera membeli tiket.

Jedah waktu dari pembelian tiket ke hari terbang kurang lebih sekitar 6 bulan. Ini biasa kalau mau dapat promo tiket murah hehe. Sebelum kesana aku sudah mulai mencari-cari informasi agar lebih mudah ketika disana nanti, biar ngga nyasar juga ---nyasar dihati adek aja mas*. Seluruh informasi yang perlu sudah kukumpulkan, baik dari hotel, transport, spot-spot yang harus dikunjungi sampai ke makanan halal, aku termasuk yang cerewet kalau soal makanan halal ---padahal kalau makan juga pasti semua habis*.

Setelah semua persiapan siap, tinggal menunggu harinya saja, aku bersemangat ---ya iyalah mas, wong kampung kayak saya bisa terbang aja dah senang kok, apalagi keluar negeri  #eh.

Sebelum berangkat aku sudah mempersiapkan 2 tujuan yang harus dikunjungi yaitu Patung Big Budha dan Phi Phi Island. Pokoknya harus, wajib, kudu kesana, soalnya sudah terbius dengan penampakan  keindahannya di internet. Dan berhubung waktu kami tak banyak, hanya 2 hari efektif disana, waktu singkat itu harus kami gunakan sebaik mungkin ---bila perlu ga usah nginep deh, langsung stripping 2 hari dijalan, #mas situ waras?

Hari yang kunantikan pun tiba segera tiba ---hari lamaran mas? Bukan..bukan...maksudnya hari ke Phuket hehe. Karena dari Palembang tidak ada penerbangan langsung ke Phuket Thailand, kami membeli penerbangan dulu Ke Kuala Lumpur. Setelah menunggu kurang lebih enam bulan, tinggal satu minggu lagi menuju Phuket.
Hari pertama di airport Kuala Lumpur (abaikan gayanya)

Tak sabar rasanya untuk melihat birunya lautan di Pantai Patong phuket, berkenalan melihat penduduk atau turis sekitar memakai bikini, tempat kami akan menginap nanti di sekitaran pantai Patong, kalau di Bali ibaratnya di pantai Kuta. Membayangkannya saja sudah bersemangat, apalagi setelah sampai disana nanti. Ah pokoknya mupeng mupeng mupeng (muka pengen). 


Tak pernah terbayangkan kalau perjalanan ke Phuket ini nanti ternyata akan rusak total karena sebuah penyakit kecil. Menjelang 3 hari sebelum terbang ada sariawan kecil di bibirku, ya sudahlah pikirku cuma sariawan ini, aku pake albot*l aja biar cepat sembuh. Esoknya sariawannya agak membesar dan ternyata malah nambah, good job malah sekarang mendua sariawannya. Dan yang bikin tidak tahan, sariawannya di lidah, jadinya kalau makan terasa perih sekali, jangankan buat makan, bicara aja perih sekali, ---seperih ketika kau tinggalkan #skip.


Besoknya malah bertambah lagi satu, damn di hari terbang malah kau tigakan aku. Beneran loh, kalau sudah keroyokan sariawannya nyiksa banget. Dipenerbangan kami pagi hari ke Kuala Lumpur aku benar-benar menjadi kalem seperti biasanya #hello, tak banyak bicara, boro-boro bicara, nelan air ludah saja perih sekali. Disaat penerbangan temenku nawarin makan kripik, rasanya pedas, disaat masuk mulut dan mengigit tak sengaja terkena sariawan, lidahku seperti terbakar ---serius loh ini sama rasanya kayak terbakar cemburu*

karon view point
Sampai di Kuala Lumpur kamipun beristirahat di bandara menunggu penerbangan selanjutnya di sore ke Phuket. Selama di bandara aku benar-benar tak bersahabat, males diajak ngomong, males gerak, mudah sensi ---lagi dapet ya? semua gara-gara sariawan yang beranak pinak ini. Aku menggerutu di hati, tambahin aja deh sekalian biar tambah parah. Sorepun kami sampai di Bandara Phuket Internasional. Langsung saja kami ke penginapan dengan jemputan yang sudah kami pesan lewat hotel. Setelah sampai aku baru sadar kalau tak sengaja jaketku ketinggalan dimobil jemputan tadi, another bad luck. Saat kami sampai hari sudah malam, malam itu kami hanya beristirahat mengisi tenaga untuk esok harinya. Keluarpun hanya untuk makan malam di pasar sekitar hotel.

Tuhan memang mendengar do’a hambanya, besoknya ketika aku bangun, sariawanku bertambah lagi, resmi sudah menjadi empat, thanks God. Meski menahan perih aku tetap ikut jalan-jalan di hari pertama kami. Di hari pertama kami hanya mengelilingi Phuket, sebenarnya disini tak jauh beda dengan perjalanan kami di Bali dulu, kita bisa menyewa motor agar lebih murah. Berhubung kami rame, kami memutuskan menyewa van untuk satu hari.

Big Budha Phuket
Driver yang kami sewa ini sangat bersahabat, namanya Hiyub. Dia mengajak kami mengelilingi Phuket dimulai dari Karon View, disini mirip dengan di Uluwatu Bali, kita bisa melihat indahnya lautan dan pantai dari atas tebing. Disini tak sengaja aku bertemu pemilik elang yang menyewakan elangnya untuk difoto bersama kita dengan harga 100 bath Thailand, atau kira-kira sebesar 40 ribu rupiah, akupun berfoto dengan si mbak yang punya elang. Agak susah untuk berkomunikasi disini, soalnya tak banyak yang bisa berbahasa Inggris, alhasil aku banyak menggunakan bahasa Tarzan selama disana.

Puas melihat-lihat di Karon View, kamipun diajaknya melihat Big Budha Phuket. Disaat kami kesana, sedang dilakukan perbaikan, alhasil view foto kami tak maksimal ---tapi kau tetap indah dimataku mas, apaan sih*. Puas melihat-lihat di Big Budha Phuket kamipun kembali ke driver kami mas Hiyub tadi untuk menuju tempat wisata lain.

Wat Chalong
Kami diarahkan menuju Wat Chalong, disini mata kita disuguhi dengan kuil-kuil yang cantik. Langsung saja kami berjalan kedalam, aku mencoba mengajak Hiyub untuk ikut bersama kami, tapi dia menolak kalem dan menunggu di mobil. Kamipun lanjut melihat-lihat di dalam Wat Chalong, dan pastinya berfoto. Aku memaksakan diri menikmati jalan-jalan ini, karena perihnya sariawanku bertambah parah, cuaca disana sedang panas-panasnya.

Wat Chalong
Selepas dari Wat Chalong, kami ke Silk Centre, pusat sutera, aku tak tertarik untuk melihat-lihat. Pertama karena aku sedang sakit ---duh ile sariawan aja dibesar-besarin*. Kedua karena aku muslim, dan pria muslim haram memakai sutera. Jadinya aku cuma melihat sekilas saja, sedangkan para ladies gelap mata, dasar uh.

Selanjutnya kami dibawanya ke pusat belanja di Phuket, aku lupa apa namanya, aku tak menikmatinya sama sekali, karena cuaca yang panas membuat bibir jadi kering dan kulit disekitaran sariawanku ikut kering, alhasil kulitnya jadi mengelupas dan ketika kutarik malah berdarah. Oh Tuhan apa dosaku #banyak. Perjalanan yang tadinya terpaksa dinikmati berubah menjadi tak menikmati sama sekali. Aku sibuk mengelapi darah di bibirku yang seksi sepanjang jalan.

Hiyub, driver yang kami sewa seharian penuh
Akupun meminta pulang ke hotel karena makin perih dan kebetulan sudah mulai gelap, sebagian dari kami berpisah, ada yang lanjut ke bandara lagi untuk terbang. Sisanya cuma aku berdua bersama Riduan kembali ke hotel dan beristirahat. Riduan bersemangat untuk lanjut ke Phi Phi Island besok. Sedangkan aku sibuk mengurusi perihnya hatiku, eh perihnya bibir, lidah ku. Sesampainya di hotel aku langsung ke kasur tanpa ba bi bu. Ilang sudah semangatku untuk explore Phuket.

Malam itu aku tak makan, bagaimana mau makan, nelen ludah aja sudah berjuang nahan perih. Akhirnya akupun tidur lebih awal, hal yang tak pernah kulakukan ketika sedang dalam travellling. Besok paginya Riduan bertanya padaku jadi atau tidak ke Phi Phi Island, dia agak ragu bertanya karena dia tahu aku sedang tidak dalam mood yang bagus. Dari malam sampai ke pagi aku tak bisa makan, akupun mengatakan tidak jadi ke Phi Phi Island, “Kalau kamu mau kesana tidak apa-apa kok, biar aku istirahat di hotel”, akhirnya si Riduan pun tidak jadi juga kesana. Siangnya kami hanya berjalan-jalan disekitaran hotel untuk mencari mobil jemputan yang membawa ke bandara lagi.

Suasana di deket hotel
Malamnya kami pun terbang lagi ke Malaysia dan menginap disana. Sisa waktu 1 hari kami manfaatkan untuk explore Kuala Lumpur karena ada teman baikku disana Zaheer Husain. Dan di Kuala Lumpur ini kesialanku belum berakhir. Pada catatan selanjutnya akan kuceritakan betapa besar jasa Zaheer Husain yang menolong kami ketika terkunci di Kuala Lumpur.

Don’t stop dreaming, because everything comes from dream.

7 comments:

  1. Mantap..
    Untung beh yg aq sonop itu dak di masukke,wkk..

    ReplyDelete
  2. Mantap..
    Untung beh yg aq sonop itu dak di masukke,wkk..

    ReplyDelete
  3. My dear fried Feri Nigam,

    Thanks to write my name,, hahaha.. I hope you will join with us in other trip.

    ReplyDelete
  4. Paling gak enak kalo ngetrip sakit. Sariawan mah masih okelah ya. Lha aku, kena diare >.<

    omnduut.com

    ReplyDelete
    Replies
    1. sariwawan men lah ditambah bibir seksi bedarah hadeeeh

      Delete