bloom

flash

Thursday, December 22, 2016

THE SAME DAY TRIP BATAM : Trip Dadakan di Batam



Masih sisa cerita dari Singapore, pada pagi terakhir disana kami langsung menuju ke Harbor Front melalui stasiun Clarke Quay di dekat hostel kami menginap. Jarak ke Harbor Front tak lebih dari 30 menit. Tujuan berikutnya adalah ke kota Batam via ferry dan nantinya akan dilanjutkan ke Palembang pada malam harinya.

Setelah sampai di Harbor Front, kami langsung bertanya pada mbak-mbak kece yang duduk di meja informasi kemana ferry ke Batam. Jaraknya lumayan juga ternyata meskipun satu lokasi, cukup membuat berkeringat jalan kaki --makanya olahraga*. Langsung saja kami menuju konter untuk mencetak boarding pass, tiketnya sudah kami beli secara online sebelum terbang ke Singapore.

Untuk boarding pass sendiri ternyata tidak boleh terlambat seperti  menstruasi, ya sama saja dimana-mana jangan terlambat, tetapi disini juga tidak bisa terlalu cepat, untuk boarding sendiri ada batasan waktu tertentu. Kita bisa boarding diantara waktu yang sudah ditentukan, jadi tidak harus berlama-lama di pelabuhan, datang saja dekat-dekat waktu kita berangkat --tapi jangan sampai telat juga*.

Singkat cerita kamipun berlayar mengarungi hidup baru, eh maksudnya menuju Batam, ternyata kapal ferrynya tidak terlalu besar. Selama berlayar pemandangannya cukup menghibur mata –apalagi sambil ngebayangin berdua sama pacar #hello*, biasanya aku pasti mual dan mabok kalau naik ferry, tapi kali ini aku tidak merasakannya.

Welcome to Batam
 Setelah perjalanan satu jam, kapal pun berlabuh di Batam Center. Waktu kembali seperti semula, satu jam lebih lambat dari waktu Singapore. Langsung saja kami menuju pelaminan gate kedatangan, sebelumnya seperti biasa cek dulu di imigrasi Batam. Setelah sampai, karena ini perdana kami masih bingung mau kemana dulu karena jam pesawat ke Palembang masih sekitar 8 jam-an lagi.

Setelah tak ada keputusan akan cinta kita #plak, hampir setengah jam kami belum mendapat keputusan mau kemana, akhirnya kami kami memesan taksi langsung saja ke bandara. Biaya dari pelabuhan ke Bandara sebesar Rp. 90.000 dengan taksi lokal. Jaraknya ternyata tak terlalu jauh juga, untuk berikutnya mungkin jamnya tidak harus terlalu lama juga kalau mau langsung lanjut terbang ke Palembang atau ke kota lain.

Dalam perjalanan, temanku Hatta mencuil ku --ih ganjen*, katanya “Coba tanya pak supir itu kira-kira kalau sewa mobil untuk tour sehari berapaan, terus dimana aja yang bagus”. Akhirnya aku memberanikan diri bertanya, paling kalau mahal tak jadi pikirku. Dengan sedikit ragu aku bertanya, “Om telolet om”, eh bukan bukan. Dengan santai kutanya apa saja yang bagus-bagus disekitar situ.

Bapak Wirman dan temanku Hatta
Bapak supir itu menyebut beberapa tempat yang cukup bagus menurutnya, diapun menawarkan untuk jalan seharian dengan mobilnya dengan tarif sebesar Rp. 500.000 itupun sudah termasuk mengantar kami ke bandara sorenya. Baiklah kata temanku once in life, tak apalah dicoba lagipula biayanya kami patungan berdua.

Kampung Tua Tiang Wangkang
Setelah deal dan yakin --seyakin cintaku padamu* kami pun langsung diajak bapak supir yang bernama Wirman ini ke lokasi pertama yang bertuliskan jelas “Selamat Datang di Batam”, setelah itu ke jembatan Barelang, aku lupa apa singkatannya. Berhubung di Palembang juga terkenal dengan icon jembatan Amperanya, bagiku tidak terlalu menarik sebelum sampai kesana. Setelah sampai, ternyata jembatannya sangat cantik --secantik kamu dek*. Langsung saja kami menuju spot foto yang paling tepat untuk diposting nanti di instagram hehe.

Barelang View
Puas berfoto-foto dan melihat-lihat di seputaran Barelang, perut sudah mulai berbunyi dan minta diisi. Kami ditawarinya untuk mencoba makan di kampung tua Tiang Wangkang, katanya harganya relatif lebih murah daripada ditempat-tempat yang ramai. Mendengar kata keramat “murah” langsung saja kami mengiyakan, ya iyalah haha.

Barelang Bridge
Begitu melihat gerbang, ada sedikit hal yang unik, disini berdiri masjid dan juga wihara berseberangan, katanya juga ada gereja didekat situ, sayang aku tak bisa mengambil fotonya. Tampak jelas kalau di Batam ini diisi dengan beragam-ragam suku dan ras yang berbeda, serta berbeda-beda agama. Tetapi dari sini jelas terlihat kebhinekaan yang nyata, tidak seperti viral yang banyak menebar kebencian di sosial media sekarang --ups stop, bahasannya ngerik*.

Restoran di Kampung Tiang Wangkang
Restorannya ternyata dipinggiran laut, lebih tepatnya diatas laut, ditopang dengan bangunan dari kayu yang kokoh. Tak salah kami salah pilih tempat makan, angin laut yang berhembus memberikan kesegaran yang nyata #uhlala. Aku mencoba memesan nasi goreng spesial dan ranjungan (sejenis kepiting), begitupun pesanan temanku.

Mari makan :D
Setelah tak lama menunggu, makanan yang kami pesanpun tiba, si Bapak Wirman makan di tempat yang sama tapi berbeda lapak --jualan ya*. Segera saja kami santap makanan yang dari tadi kami tunggu. Rasanya wow enak banget, mungkin karena 2 hari makan di Singapore ala kadanya dan tidak sama dengan bumbu khas dan citarasa masakan Indonesia. Pokoknya rasa makanannya bagiku diatas rata-rata deh, dan harganya juga lumayan murah, porsi yang kumakan tak lebih dari Rp. 70.000 dan sudah termasuk minuman. Padahal di Singapore kemaren uang segitu dapat makan ala kadarnya #curhat.
 
Sisa kapal pengungsi Vietnam
Setelah selesai makan kami sedikit ngobrol ngalur ngidul, suer suasana di tempat makan ini bikin betah. Angin yang semilir memberi kesegaran dan tenaga baru, setelah makan membangkitkan semangat bertualang kembali. Setelah selesai makan dan sedikit beristirahat dan sudah membayar ke kasir --tumben ga ngutang, kami kembali lagi ke mobil bersama pak Wirman. Sebelum meninggalkan perkampungan ini aku sempat mengabadikan beberapa foto untuk pengingat pernah kesana.

Bangunan ini dulunya dipakai untuk "Mengurung" pengungsi yang membuat onar
Selanjutnya kami diajak ke kawasan wisata Pulau Galang, jam buka setiap Senin sampai Jumat pukul 07.30 pagi sampai 16.30 sore dan pada hari Sabtu, Minggu dan hari libur sampai jam 17.30. Biaya masuk per mobil sebesar Rp. 10.000 dan untuk per kepala biaya masuk sebesar Rp. 5.000. Objek wisata ini dulunya tempat pengungsian warga dari negara Vietnam ketika jaman perang  --ih serem banget.

Foto-foto kegiatan  pemerintah selama di pengungsian warga Vietnam
Disini banyak kita temui sisa-sisa dari pengungsian warga Vietnam ketika masih mengungsi di Batam. Pertama-tama kami diajak berkeliling ke museum foto disana, dari foto-foto kita sudah banyak dapat cerita. Segala kegiatan pemerintah dan warga setempat kala itu jelas tergambar dalam foto-foto ini, foto-foto itu seakan menceritakan bagaimana masa sulit warga Vietnam kala itu. Bagi pencinta sejarah pastilah tempat ini tidak akan terlewat ketika mampir ke Batam.

Gereja di wisata Pulau Galang
Selanjutnya kami diajak berputar-putar di kawasan ini, pada dasarnya aku pribadi bukan tipikal yang senang melihat objek-objek yang berkenaan dengan sejarah. Tapi, melihat peninggalan-peninggalan dari masyarakat Vietnam disini memberi warna lain dari perjalanan kali ini. Entah kenapa aku jadi suka kamu dan tak berenti memotret semua objek disana, aku tanpa sadar sudah menjadi suka tempat-tempat bersejarah.

Mataku terhenti ketika melihat beberapa kapal besar yang diletakkan di tanah sebagai objek wisata, dulunya kapal-kapal itu dipakai warga Vietnam untuk mencapai daratan Batam. Kata penduduk sekitar dulu lebih banyak kapal-kapalnya, sekarang hanya beberapa sisanya untuk mengenang perjuangan dan getirnya masa hidup mereka dulu --segetir perasaanku padamu*.

Masih di Pulau Galang
Rasanya aku ingin menghabiskan waktu seharian disana, sungguh tidak cukup kalau hanya beberapa jam untuk menyusuri peninggalan pengungsian warga Vietnam ini. Banyak sekali sisa-sisa bangunan yang tak sempat terkunjungi karena keterbatasan waktu. Kata pak Wirman, di bagian dalam banyak lagi rumah-rumah dan gereja yang lumayan seram dan sudah sangat lama, sayangnya kami tak cukup waktu untuk mengunjungi satu persatu.

Setelah lumayan lama juga kami pun diarahkan lagi ke tujuan lain oleh pak Wirman, katanya kami akan diajak ke Pantai Melur. Kami setuju saja karena memang kami tak berencana untuk jalan-jalan di Batam dan sejauh ini pak Wirman sudah menunjukkan tempat-tempat yang bagus. Ketika keluar aku minta berenti sejenak melihat kerumunan yang ternyata sedang melakukan upacara keagamaan mereka. Aku hanya sempat memfoto sebentar dan kemudian kami kembali bertualang --duh ile bahasanya*

Selanjutnya kami segera menuju Pantai Melur yang kata pak Wirman cukup worth it untuk dikunjungi. Ketika sampai, bagiku “lumayan” karena aku sudah pernah melihat yang menurutku lebih indah di Bali. Kami tak lama berada di pantai Melur ini karena waktu sudah tak bersahabat lagi dan kami harus terbang lagi ke Palembang malamnya.

Pantai Melur
Setelah selesai kamipun minta diantar ke bandara untuk pulang kembali ke Palembang. Kami meminta kontak pak Wirman manatahu suatu hari kami akan kembali lagi kesana, dan sepertinya aku akan kembali padamu lagi. Tidak menyesal kami melakukan trip dadakan disana, sedikit darisana sudah dapat menggambarkan betapa indahnya Batam untuk dikunjungi. Nomor kontak pak Wirman +6281364235174.

Dont stop dreaming, because everything comes from dream

2 comments:

  1. Lemaklaaa :D

    Lumayan murah itu makan segitu, dulu pas ke Batam apa-apa mahaaal.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kukiro jugo mahal2 mang denger cerito wong di batam
      Ternyato memorable

      Delete