bloom

flash

Tuesday, January 24, 2017

BEBERAPA SIFAT BOSS DAN ATASAN YANG MEMBUAT BANYAK PEGAWAI RESIGN



Bekerja dengan suasana dan proses kerja yang kondusif dan membuat nyaman merupakan salah satu point terpenting untuk membuat pegawai atau sfaff-staff yang kompeten bertahan. Terkadang atasan-atasan banyak lupa kalau mereka juga membutuhkan pegawai-pegawai yang terbaik untuk kemajuan perusahaan atau usaha dagangnya --lupa? beneran lupa atau pura-pura lupa*.
 
Sumber gambar sini
Dari sekian banyak tempat kerja yang pernah kujalani --ehm ehm dijalani*, ada banyak sekali faktor-faktor yang membuat pegawai atau staff yang kompeten lari dari perusahaan atau usaha dagang tempatnya bekerja. Baik dari segi pekerjaan, hubungan dengan sesama pegawai, ataupun hubungan dengan atasan pada dasarnya haruslah seimbang dan berjalan dengan baik.

Terkadang ada temanku yang mempunyai bawahan dan pegawai berkata kalau banyak pegawainya yang kurang betah dan selalu gonta ganti orang yang keluar masuk di usahanya. Mungkin dia kurang sadar kalau ternyata dia sendiri yang membuat pegawainya kurang bertahan lama.

Aku juga dulu mengalami beberapa kali ganti-ganti pekerjaan karena kurang nyaman dengan atasan yang tidak mau memahami perasaanku --itu atasan apa pacar ya*. Untungnya di tempatku bekerja sekarang atasan utamaku sangat baik dan memperlakukan bawahan sebagai teman dan tetap profesional dalam pekerjaan.

Dari beberapa pekerjaan terakhir yang pernah aku alami sendiri, baik dari toko kecil sampai ke perusahaan besar, ada beberapa faktor dari atasan atau boss yang membuatku dan mungkin buat para pegawai lain juga yang membuat tidak betah dan ingin resign segera bila mendapat kesempatan lain, berikut contohnya dari pandangan saya, ini murni dari pengalaman saya tanpa bermaksud menyudutkan pihak manapun atau menekan siapapun –mau donk ditekan-tekan, eh*

Pertama, Tidak Tepat Janji

Sumber gambar sini

Ketika seseorang memutuskan untuk mulai bekerja pada sebuah usaha dagang, banyak sekali harapan yang mungkin ditanamkannya pada tempatnya bekerja tersebut. Ketika aku kuliah dulu saat masih imut-imutnya --siapin ember muntah* aku sempat bekerja di perusahaan yang pimpinannya sering memberikan iming-iming kepada pegawainya.

Sayangnya banyak dari janji yang dibuatnya untuk pegawainya itu hanyalah khayalan belaka, tidak real seperti cintaku padamu #eh. Pernah dulu kami dijanjikan akan mendapat bonus besar kalau setahun tidak terdapat absen sama sekali. Dan tadaaaa ada yang berhasil, tapi ternyata bonus itu hanya janji manis tanpa kenyataan #miris. Parahnya lagi ketika sang atasan tidak bisa memegang omongannya sendiri. Dia mengatakan jangan melakukan ini dan itu, malah dia sendiri yang berbuat dan memakai jimat paling ampuhnya boss tak pernah salah.

Kedua, Menguras Tenaga dan Waktu Pegawai
Terkadang mungkin atasan atau boss suka pura-pura lupa kalau pegawai itu bukan pemilik atau sama-sama berinvestasi di usahanya. Mereka kebanyakan ingin menanamkan agar pegawainya merasa memiliki usahanya seperti mereka. Saking lupanya pegawainya diminta bekerja dengan banyak tugas dan jam kerja yang terkadang tidak rasional.
 
Sumber gambar sini
Hanya karena kita pemilik usaha dan selalu siap sedia untuk selalu menyiapkan waktu bagi usaha kita, bukan berarti pegawai kita juga harus melakukan hal yang sama. Anda siap memikirkan bagaimana agar usaha anda maju dan siap waktu selama 24 jam, tidak berlaku hal yang sama dengan pegawai anda.

Perlu diingat bahwa selain dunia kerja, pegawai atau bawahan juga punya kehidupan di luar sana . Saya sendiri yang tampan ini paling tidak suka ketika disaat cuti atau tidak bekerja harus tiba-tiba datang ke tempat kerja dan ditelpon berkali-kali. Rasanya kalau saat liburan itu dihantui dengan telpon berkali-kali mungkin aku lebih memilih untuk membuang handphoneku --bisa dinonaktif keles biar ga ditelpon*.

Ketiga, Menetapkan Target Diatas Kemampuan Pegawai

Sumber gambar sini

Setiap orang pada dasarnya dapat bekerja dan melakukan pekerjaan sesuai kadar kemampuan dan kapasitasnya. Boleh saja meminta pegawai atau bawahan kita untuk bekerja lebih lagi demi kemajuan dan dan peningkatan pegawai itu sendiri. Terkadang yang disesalkan adalah putus cinta denganmu #eh. Kadang sang boss yang tidak baik hati memberi target kerja yang super tinggi diatas kemampuan pegawainya. Kalau sudah dirasa tidak sanggup lagi, dijamin pegawai yang anda pekerjakan tak akan lama bekerja dengan anda.

Keempat, Membesar-besarkan Masalah
Sudah hal lumrah melakukan kesalahan dalam setiap pekerjaan, meskipun pegawai yang sudah berpengalaman sekalipun ada kalanya melakukan kesalahan. Yang perlu dilihat sebatasmana kesalahan yang dibuatnya. Apakah sangat parah atau tidak? Apakah akan merugikan perusahaan atau tidak, bisa diselesaikan atau tidak.
 
Sumber gambar sini
Kalau masalahnya kecil dan masih bisa diselesaikan tanpa drama panjang alangkah baiknya hanya sedikit ditegur saja bukan malah diperpanjang dan menyudutkan si pelaku kesalahan --uhlala pelaku kesalahan, berkesan banget*. Banyak atasan yang tanpa sadar suka membesar-besarkan kesalahan yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cepat.

Kelima, Tidak Memberikan Peningkatan dan Apresiasi pada Pegawai
Tak dapat dipungkiri, salah satu faktor yang membuat pegawai bertahan lama atau tidak adalah peningkatan dirinya di perusahaan, baik secara jabatan maupun pendapatan. Aku teringat kembali kisah lama --terus mas, terus aja curhat disini :D*. Dulu lagi-lagi saat masih kuliah, aku sampai memberanikan diri berbicara pada atasanku dulu. “Pak katanya disini kalau sudah satu tahun ada kenaikan gaji, saya cek sudah setahun 2 bulan ini gaji saya masih tidak adak peningkatan sama sekali”. Dan tak lama dari situ saya mendapatkan gaji yang berbeda bulan kedepannya meskipun minim sekali.
 
Sumber gambar sini
Dan kebanyakan atasan lebih sering melihat jumlah salah dari pada jumlah prestasi. Misalkan saya sendiri, karena sedikit mengerti masalah teknik komputer dulu jadi sering sekali diandalkan untuk memperbaiki masalah-masalah kecil pada komputer. Pertama-tama lancar dan jadi kebiasaan. Pernah suatu kali ketika aku kesulitan dan komputernya malah jadi tidak berfungsi (kemungkinan karena sudah terlalu tua dan konslet listrisk) aku dimarahi abis-abisan. Hellooooo, aku tidak digaji loh untuk pekerjaan ini, giliran berbuat baik banyak tak digaji dan tidak dipuji, berbuat sekali salah langsung dimarahi. Damn I am done, sampai sekarang saya tak mau lagi bantu-bantu kalau bukan di pekerjaan saya.

Keenam, Tidak Membangun Hubungan yang Baik dengan Pegawai
Yang terakhir ini sudah bukan rahasia umum lagi, banyak dari boss atau atasan hanya baik saat ada maunya. Disaat diperlukan disayang-sayang saat tak berguna dibuang sakitnya tuh disini --sambil nunjukin dadaku yang bidang #huek*. Banyak atasan yang terlihat enggan untuk berdiri sama sejajar dengan bawahan, padahal sejatinya manusia itu dilahirkan sama tanpa memandang derajat (tumben saya bijak). Sebaik-baiknya didalam dunia kerja saling menjaga komunikasi dua arah yang baik, baik bersama sesama pegawai maupun atasan dengan bawahan.
 
Sumber gambar sini
Tegas dan disiplin terhadap bawahan diperlukan disaat yang tepat, tidak serta merta membuat bawahan atau pegawai menjadi takut dan malas ketika bersama atasan. Tak masalah jika ada pegawai yang keluar masuk karena mendapat kesempatan atau pekerjaan yang lebih layak, yang perlu diperhatikan jika terlalu sering pegawai gonta ganti, bisa jadi karena atasan yang terlalu keras atau masa bodoh dengan pegawainya.

Demikianlah tadi beberapa sifat atasan atau boss yang mungkin menjadi titik yang penting bagi kemajuan sebuah usaha dagang atau perusahaan, tak hanya menuntut boss atau atasan yang baik, pegawai juga harus tahu posisi dan bekerja dengan baik (untuk tips supaya betah di kantor silahkan baca disini)

Dont stop dreaming because everything comes from dream.

8 comments:

  1. Pak boss harus baco postingan ini 😄

    ReplyDelete
    Replies
    1. wkwkwkwk, bos lamo ye, men yang baru idak hahaha #ngeles

      Delete
  2. Itulah knp saya resign, dan apakah mantan bos saya menyesal telah melepas karyawan terbaiknya ? Tentu saja tidak -_-

    ReplyDelete
  3. Memang kebanyakan bosss...begitu. kadang bikin eneg, pas cuti ditelpon telpon nanyain kerjaan #ngalami terus sedikit apresiasi terhadap bawahan yang sudah berjuang untuk kemajuan perusahaan #tsaaah #gaya #soksokan

    ReplyDelete
  4. Aku paling nggak betah kalau dapat boss yang bossy..bikin nyesek

    ReplyDelete
    Replies
    1. sama mbak, aku paling sebulan paling lama kalau bos kayak gitu, nunggu gajian aja cabut haha

      Delete