bloom

flash

Wednesday, March 15, 2017

JELAJAH BEBERAPA PASAR PALEMBANG : Kulu Kilir Peh



Pada Minggu lalu kami berkesempatan untuk mencoba menjelajah beberapa pasar iconic di Palembang. Pasar? Ya pasar, pasar tradisional. Pasar dimana tempat “biasanya” ibu-ibu belanja kebutuhan sehari-hari seperti sayur-sayuran, buah-buahan, bumbu-bumbu dapur serta alat-alat dapur lainnya.

Tujuan kami kali ini sebenarnya dalam rangka sebuah acara komunitas backpacker yang akan digagas pada dua bulan mendatang nanti. Demi terlaksananya acara tersebut kami bertugas untuk meng-explore pasar-pasar tradisional yang masuk dalam list untuk acara nanti. Aku yang tampan ini ikut serta untuk meramaikan --yang bagian tampan jangan terlalu fokus*.

Adapun agenda yang dilakukan dalam penelusuran pasar ini --duh ile penulusuran* untuk melihat-lihat apa saja ciri khas yang ada disana, baik berupa kuliner, bahan makanan serta tempat-tempat unik yang bisa dijadikan clue untuk games acara nanti. Dari sekian banyak pasar, terpilihlah beberapa pasar-pasar tradisional untuk dijadikan bagian dari hidupku acara nanti. 

Meeting point (Monpera)
Meeting point kami pertama di seputaran Monumen Ampera (Monpera) yang terletak di dekat area Benteng Kuto Besak. Pasar pertam yang kami tuju adalah pasar 10 Ulu, untuk menuju kesana bisa melalui getek, semacam perahu yang biasa digunakan untuk menyeberang di sungai musi. Getek ini banyak terdapat di pinggiran sungai kawasan BKB. Masyarakat biasanya menggunakannya untuk menyeberang dari daerah Ulu ke Ilir atau sebaliknya.

Kekinian biar ga disangka hoax :D
Agar lebih menarik, karena jarak menyebrang yang tak terlalu jauh, kami mencoba jalan kaki melalui jembatan Ampera --padahal ngomong aja penghematan :D*. Di daerah 10 Ulu ini terdapat kelenteng Dewi Kwan Im yang instagramable. Karena kami fokus ke pasar aku tak sempat menjepret kelenteng itu dengan kamera baruku, maaf ga mau pamer :D.  

Jalan kaki di Ampera
Meskipun terbilang warga Ulu, sejak dibangunnya pasar ini baru kali ini aku berkesempatan masuk pasar ini secara langsung hehe. Dari sudut luar, pasar ini terlihat megah dan kokoh, kamipun masuk kedalam untuk melihat-lihat apa saja yang ada didalamnya. Seperti pasar pada umumnya, disini diisi beragam penjual seperti sayur mayur, daging, buah-buahan sampai peralatan rumah tangga.

Pasar 10 Ulu
Ketika didalam tampak teman-teman mulai mencatat dan melihat-lihat apa saja yang bisa dijadikan clue atau bahan untuk games atau apa saja yang bisa dijadikan alat yang sesuai dengan acara nanti. Aku sendiri cuma celingak celinguk di dalam, sudah tak ingat lagi aku kapan terakhir kali masuk pasar tradisional seperti ini --please jangan dibully :D*

 
Bagian dalam pasar 10 Ulu
Bagi ibu-ibu atau "mungkin" bapak-bapak yang biasa belanja ke pasar untuk kebutuhan sehari-hari ataupun bulanan rasanya di pasar ini sudah menyediakan semuanya. Puas melihat-lihat bagian dalam, kamipun bergerak keluar untuk melihat-lihat lagi kalau-kalau ada yang menarik seperti kamu. Langkahku terhenti ketika melihat makanan tradisional.

Makanan tradisional yang masih ada di Pasar 10 Ulu
Kami berhenti sejenak untuk melihat-lihat makanan tradisional yang sering kumakan ketika masih kanak-kanak, jaman ketika aku masih sangat imut --please jangan muntah di sembarang tempat*. Harga makanan-makanan ini juga relatif murah, mulai dari seribu rupiah sampai lima ribuan. Berhubung aku belum sarapan, aku membeli beberapa untuk dimakan selama dijalan nanti.

Kira-kira buat apa nih?

Kami kembali berjalan di sekitar luar pasar 10 Ulu, di tepi luar terdapat penjuala bumbu-bumbu dapur seperti terasi, asam jawa, sampai penjual kopi. Kami sempat singgah di lapak bapak-bapak yang menjajakan bunga untuk pernikahan kita sesajian atau acara-acara ritual. Kami melihat-lihat apa saja yang ada di lapak si bapak, ternyata kebanyakan untuk pengobatan.

Setelah kami rasa cukup melihat-lihat dan mencatat apa saja yang bisa dijadikan bahan nanti, dan karena fans ku mulai berdatangan #plak kami pun kembali ke arah Ampera, tepatnya di bawahnya. kami berencana kembali ke kawasan Benteng Kuto Besak untuk kembali bersama teman lain yang terpisah untuk memantau pasar lain.

Dermaga getek di bawah Ampera sebelah Ulu

Setelah sampai di bawah Ampera, aku ingin mencoba untuk naik getek untuk kembali ke BKB, dan karena hayati lelah juga #eh. Dari getek ini kita bisa menikmati pemandangan Ampera dari sudut yang berbeda, ya anggap saja bonus penghilang capek ketika berjalan kaki tadi dan sempet muter-muter di pasar 10 ulu. Dan tanpa drama hidup tak berwarna, ditengah-tengah perjalanan ada getek yang berlawanan arah menabrak getek kami. Untungnya tak ada yang terluka, hanya bagian depan getek sedikit rusak, dan tentunya karena aku yang saat itu duduk di depan sedikit mengalami guncangan batin --ya elah*

Sampai di Benteng Kuto Besak kami kembali bersama-sama menuju pasar berikutnya, tujuan berikutnya adalah pasar KM. 5 atau orang palembang menyebutnya dengan sebutan "pasar palimo". Untuk menuju kesini bisa menggunakan bus atau angkot yang menuju Km 5 atau Km 12.Tak jauh beda dengan pasar sebelumnya, barang yang dijualpun beraneka ragam, hanya saja pasar ini ternyata lebih besar dan lebih banyak pilihan barang yang bisa kita beli disini.

Tampak depan
Bagian depan
Tampak dari atas

Silahkan yang mau beli :D
Karena tujuan kami hanya untuk melihat-lihat dan mencari sumber bahan untuk games atau clue kami sibuk mencatat-catat dan mengambil gambar di sekitar. Kalau kami tak dikejar waktu pasti aku sudah khilaf berbelanja disana. Untungnya teman-temanku yang lain selalu mencegat niatku itu --duh ile bang bahasamu**.

Well, tujuan selanjutnya adalah Pasar Cinde, saat ini pasar cinde ini sedang dalam tahap renovasi untuk dijadikan pasar yang lebih modern. Untuk menuju kesini dari pasar km 5 kita cukup naik angkot lagi sekali lagi. Peserta games nanti boleh menggunakan moda apapun yang dirasa lebih cepat dan sesuai dengan budget yang sudah ditentukan
 
Tampak dari depan



Inilah hasilnya

Meskipun tak banyak yang bisa dilihat, kami tetap masuk ke hatimu dalam untuk melihat-lihat apa saja yang ada disana. Di dalam bangunan Cinde ini yang paling mencolok adalah tukang jahit baik bordir maupun mesin jahit biasa. Kami mencoba membuat bordiran nama di topi dan pakaian kami, dengan terampil penjahitnya membuat ukiran nama kami dengan mesin jahit khusus bordiran.

Salah satu jualan di dalam
Tak sampai 10 menit bordiran kami selesai, dan harga yang diberikan MURAH MERIAH, asal bisa tawar menawar. Pasar Cinde ini berdekatan dengan pasar mawar, di pasar mawar ini juga kita bisa menemukan apa saja --kalau bisa sih menemukan jodoh juga :D*. Konon katanya disini dulu ada bioskop besar bernama Mawar. Setidaknya seperti itulah yang kudengar.

Bagian luar
Bagi pencinta batu cincin, disini juga terdapat pusat penjualan batu akik, bukan batu berlian ya ladies hehe. Disarankan untuk datang pagi-pagi kesini kalau mau berburu barang-barang murah dan banyak pilihan. Beneran deh, disini kita bisa dapat apa aja yang kita mau, anyway kalau ada abang-abang manggil buat beli DVD, be careful ya, kadang isinya beda --pasti senyum-senyum*

Pasar Kuto

Selesai dari Pasar Cinde, kami bergegas menuju pasar kuto, moda yang digunakan tetap angkot. Pasar kuto ini berlokasi di areal keturunan Arab. Ketika sampai disini pasar sudah tutup, ternyata pasar ini hanya aktif di pagi hari dan siangnya hanya pedagang-pedagang diluar yang masih menjajakan jualannya. Yang unik dari pasar ini adalah kamu bersamaku #eh. Di areal pasar ini, tepatnya di luar kita akan selalu melihat pedagang duren, ya buah duren bukan duda keren ya, entah saat musim ataupun tidak kita akan tetap melihat jualan duren disini.


Karena tetap pada misi menemukan clue, kami mencoba melihat-lihat dagangan apa saja yang dijual diluar pasar ini. Dan hasil memang tak pernah mengkhianati usaha, kami menemukan jualan makanan-makanan tradisional khas dari Palembang banyak dijajakan disini. Ya setidaknya kami tidak pergi dengan tangan kosong dan hampa seperti ketika baru ditinggal pacar --ga ada hubungannya*. Karena sudah siang dan perut sudah tak mau kompromi, kamipun menyempatkan diri untuk makan siang dulu disini.

Bangunan Pasar 16

Tujuan terakhir adalah pasar yang paling iconic di Palembang, "Pasar 16", disebut pasar 16 karena lokasinya yang terletak di kawasan 16 Ilir. Kalau ke Palembang pasar ini wajib untuk dikunjungi, kita bisa menemukan banyak barang yang kita cari disini dengan harga murah meriah, tapi tetap tawar menawar. Pasar 16 ini terdiri dari 5 lantai. Kami pun menyusuri lantai per lantai untuk melihat-lihat apa saja yang ditawarkan pasar ini dan tetap dengan tujuan awal, untuk acara komunitas Backpacker Indonesia Palembang.



Banyak sekali barang-barang yang dijajakan di pasar 16 ini, tinggal pintar-pintar kita untuk tawar menawar. Disini harus berani nawar sadis loh, saya yang tidak bisa sadis dan sangat rapuh kalau belanja-belanja sepertinya tidak terlalu cocok untuk belanja disini #pencitraan. Semua barang kebutuhan dari balita sampai lansia bisa ditemukan di gedung pasar 16 ini.

Lantai atas, perlu banyak pembenahan

Pemandangan dari lantai atas Pasar 16

Pada bagian paling atas, tampak kurang tertata dan masih perlu sentuhan untuk membuat pengunjung lebih tertarik untuk melihat-lihat. Pada bagian atas ini kita bisa berselfie atau wefie bersama teman dengan latar belakang Ampera yang sudah tersohor. Di bagian luar pasar ini juga banyak pedagang buah-buahan dan sayur mayur serta lauk pauk. Kami akhiri perjalanan kami hari ini di Pasar 16 ini, semoga sukses acara Kulu Kilir Peh yang kedua nanti.

Dont stop dreaming, because everything comes from dream



6 comments:

  1. Wah aku malah ga jago nawar dg harga sadis huhihihi
    Walo aslinya aku suka banget safari pasar, palagi klo nemu lapak duren gelantungan gitu huaaaa, bisa khilap mborong hahhaha

    ReplyDelete
  2. Pemandangan Pasar 16 itu keren juga, langsung ngeliat jembatan ampera sama sungainya.
    Entah kapan nih dapat jalan-jalan penuh ke Palembang. Padahal rumah di Jambi. Kalau dari Jakarta, Busnya lewat Palembang terus.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yuk ke palembang :D
      kalau kesini kabar-kabarin ya, pasti dibawa ke pasar 16

      Delete
  3. Pasarnya lumayan besar ya mas, sepertinya banyak jajan tradisional yang buatnya juga masih tradisional. Masih lestari juga.

    ReplyDelete
  4. Aku malah tertarik bersepeda melewati Jembatan Ampera, di sana memotret kegiatan apa saja :-)

    ReplyDelete