bloom

flash

Tuesday, May 23, 2017

TRIP PENUH DRAMA DI INDIA



Sebelumnya tak pernah aku bermimpi akan bisa menijakkan kakiku di tanah impianku India. Bukan rahasia lagi kalau aku pecinta India, segala pernak pernik dan hal-hal yang berbau India akan cepat kutanggapi. Bagaimana tidak, sejak kecil otakku sudah dipenuhi dengan film-film India dan lagu-lagu India. Dan sejak jaman Sekolah Dasar sampai sekarang hobiku mengenai India ini tetap sama, bahkan lebih, bahkan ada yang bilang wajahku juga sudah seperti Salman Khan #gubrak. 
Rombongan ke India
Beberapa saat lalu, akhirnya aku dan beberapa teman-teman bisa berkunjung ke India, tepatnya sebanyak 17 orang. Kami berasal dari Palembang, Padang, Aceh, Jakarta dan Jogjakarta. Titik point awal bertemu di airport Malaysia di KLIA2. Perkara peserta sebanyak ini sebenarnya bukanlah hal mudah. Tak mudah mengajak orang dan meyakinkan mereka untuk ikut sampai ke India. Tak henti-hentinya aku mempromosikan trip ku dan mengajak orang-orang hingga sampai sebanyak itu. Cerita tentang mengajak mereka akan kuceritakan pada catatan lain secara terpisah.

Dalam catatan ini, aku akan fokus menceritakan rute mana yang kami jalani selama kami di India. Setelah semua komplit 17 orang, kami kemudian berangkat ke India melalui Bandara di New Delhi. Pesawat yang semestinya terbang jam 7 malam waktu Kuala Lumpur harus delay lebih dari 2 jam dikarenakan alasan yang kami tidak ketahui, sama seperti alasan kamu belum mau nikah sama aku #eh.

Singkat cerita kamipun landing juga di bandara internasional Indira Ghandi di New Delhi, hari sudah menunjukkan pukul 11.30 malam waktu Delhi saat kami landing. Saat turun dan memasuki Bandara seperti biasa harus menuju konter imigrasi, sepanjang jalan menuju imigrasi kami tak berhenti melihat-lihat setiap sudut dari bandara besar ini, benar-benar BESAR. Baru datang saja kami sudah disuguhi musik-musik India backsound di bandara. Sebenarnya pengen joget-joget, tapi daripada kami kena usir dan dideportasi gara-gara membuat kerusuhan, niat itu kami urungkan --kami?

Tiba di kantor imigrasi, busyeeeet, antriannya langsung buat down, dah midnight antriannya masih aja bejibun, apalagi pas bagian kami yang E-visa. Dengan perasaan lelah bercampur ngantuk, tetap saja kami harus mengikuti prosedur ini. Tak kurang dari satu jam kami antri, akhirnya aku yang tampan ini tiba juga di konter, semua lancar tanpa kendala, tinggal menunggu yang lain.

Dan, disini drama pertama dimulai --jreng jreng* pada saat kami pengajuan visa secara online, batas akhir kami memasuki India adalah tanggal 14 April 2017 pukul 23.59, dan karena kami delay otomatis kami sampai lebih lambat, yang seharusnya jam 10 malam jadi 11.30, belum lagi antri imigrasi. Sepupuku saat itu ditolak, mulai kepanikan muncul saat itu. Aku mencoba mendekati dan berkata dengan petugas konter kalau kami datang telat karena pesawat kami delay.

Dengan sedikit memelas, dan memperlihatkan wajahku yang innocent, akhirnya dia bisa lewat juga –please jangan fokus di kalimat innocent :D*. Dan drama tak cuma sampat disitu, satu lagi teman kami bermasalah, tapi kali ini karena petugasnya yang salah input, ya elah. Well, setelah rentetan drama yang tak lebih indah dibanding kisah asmaraku, akhirnya kamipun selesai bertujuh belas orang SAH memasuki India.

Temanku dari Srinagar yang terbang lebih dulu ke Delhi untuk bertemu denganku sudah menunggu di depan gate kedatangan (cerita dengan temanku ini akan kutulis terpisah). Seharusnya menuruti rute kami pergi ke hotel dan beristirahat, kemudian besok paginya melanjutkan perjalanan ke Agra untuk mengunjungi Taj Mahal.

Karena kami selesai sudah jam 2 subuh waktu setempat, kamipun memutuskan untuk langsung saja menuju Agra saat itu. Meskpun masih lelah dan waktunya tidur tak mengurungkan semangat kami untuk segera melihat icon dari India. Perjalanan dari Delhi ke Agra ini tak kurang dari 3 jam selama kami di mobil. Sepanjang perjalanan beberapa dari kami mencoba untuk tidur karena memang sudah seharusnya, tetapi aku terlalu senang sampai susah untuk tidur.

Jam menunjukkan pukul 7 pagi, setibanya kami disana kami berinisiatif untuk menyewa hotel beberapa jam untuk mandi dan berganti pakaian sebelum ke Taj Mahal. Sampailah kami pada sebuah hotel di daerah Agra, sebelum menyewa ruangan kami melihat-lihat dulu keadaan kamar dan sedikit tawar menawar dengan karyawan hotel karena kami hanya memakai ruangan untuk sekitaran 2 jam saja.

Setelah setuju dengan harga dan ruangan yang kami pilih, petugas hotel meminta kami untuk menyerahkan semua passport untuk didata. Di India ternyata aturannya seperti itu, setiap kita memesan kamar, semua passport yang menginap akan dicatat, tak hanya satu passport seperti beberapa negara yang pernah aku kunjungi sebelumnya, aku sih berharap berikutnya aku dicatat di KUA bersama kamu :D.

Satu persatu dari kami mulai mengambil passport kami untuk dikumpulkan, akupun segera mengambil passportku. Di selah-selah kami menyiapkan passport ada satu teman yang sepertinya sibuk mencari-cari passportnya. Setelah semua terkumpul, satu diantara kami tidak menemukan passportnya, berulang kali dia mengecek tetap diketemukan juga.

Omaigot, mulai kepanikan menyelimuti kami, aku coba bertanya dan menyuruhnya mengingat-ngingat kembali kapan terakhir kali meletakkan passportnya. Dia mencoba mengingat-ngingat, dan sepertinya beliau kehilangan passportnya di Bandara sebelum berangkat ke Agra. Untungnya beliau masih bisa bersikap tenang dan ada suaminya yang selalu memberikan semangat.

Kami coba mencari-cari kontak bandara menumpang wifi di hotel, dapatlah nomor telepon bandara. Kami meminta tolong temanku yang dari India untuk menanyakan apakah passport temanku itu ada di lost and found bandara Delhi, dan nihil. Sedikit kecewa dan aku berinisiatif untuk menelpon KBRI di India, mengingat kami besoknya sudah harus terbang lagi ke Srinagar.

Kami kembali melanjutkan perjalanan yang sudah direncanakan untuk mengexplore Agra, hanya Taj Mahal yang dapat kami kunjungi karena kami harus buru-buru kembali ke Bandara untuk mengecek apakah ada kemungkinan passport teman kami tadi ada disana, dan benar saja ternyata ada. Syukur tak terhingga kami saat itu (cerita tentang passport ini akan kutulis di lain waktu, karena tak cukup satu episode haha).

Besoknya kami terbang ke Srinagar, sebelum ke Srinagar, kami harus check in seperti biasa dan menunjukkan passport serta tiket kami. Semua berjalan seperti biasa, lancar tanpa kendala sampai ketika temanku meminjam dompetku katanya ada perlu dan dia kembali ke terminal lain tempat dia check in (pesawat kami berbeda, tapi jam penerbangan sama).

Tibalah giliranku di petugas konter check in, petugas itu memintaku menunjukkan kartu kredit. What???? Jadi tadi temanku meminjam dompetku untuk kartu kredit rupanya, kalau aku ke tempat mereka aku harus mulai antrian lagi dari awal, dan waktu check in sudah tak banyak lagi. Drama oh drama, kok tak berenti di passport saja pikirku, kenapa drama di asmaraku harus sama dengan perjalananku ke India #eh.

Kutanya petugas konter kalau aku tak menunjukkan kartu kredit bisakah aku lolos untuk check in, karena aku lupa membawa kartu kredit itu atau tidak. Dengan senyum manisnya, petugas yang baik itu menjawab kalau aku harus membeli tiket baru seharga 3x lipat dari yang aku beli kalau aku tak menujukkan kartu kredit yang kupakai ketika membeli tiket.

Baiklah aku ingat-ingat dulu kartu mana yang kupakai dulu, tapi nihil, aku benar-benar lupa karena aku punya beberapa kartu kredit dan beberap juga sudah kumatikan. Petugas kembali memintaku, beliau berkata yang penting nomor depannya sama, tak masalah kalau menunjukkan foto atau dari copyan. Ehmm sepertinya dulu aku pernah mengirim e-mail kartu kredit untuk mengajukan kenaikan limit.

Aku minta nomor kartunya, dan aku juga minta tolong pinjem wifi untuk bisa menyambung ke internet. Untungnya petugas yang tak setampan aku ini juga baik, dia memberikan jaringan handphonenya untuk dijakan wifi portable. Setelah terkoneksi aku langsung mengecek email, dan kutunjukkan beberapa kartu yang pernah kuajukan untuk kenaikan limit. Dan setelah ditunjukkan, akhirnya akupun selesai dan segera ke ruang tunggu boarding.

JOURNEY IN KASHMIR

Pemandangan Kashmir dari atas
Sebelum sampai, kami sempat mengambil foto kashmir dari atas pesawat, dari atas saja kami sudah takjub. Pemandangan dari atas bagaikan permata yang ditaburkan Tuhan untuk dinikmati oleh setiap mata yang melihatnya. Semakin bersemangat kami untuk segera meng-explore Kashmir segera, bahkan disaat turun, pemandangan view Gulmarg dari jauh sudah memikat kami, sama seperti saat melihat kamu pertama kali dek :D.
Menyusuri Pahalgam :D
Setelah landing, kami seharusnya langsung ke Gulmarg, dikarenakan gondola Gulmarg sedang ditutup --tapi hatiku selalu terbuka kok*, kami gantikan hari itu untuk singgah di Pahalgam. Di Pahalgam ini kita akan segera ditawari berkuda oleh beberapa orang yang memang menawarkan jasa kuda mereka. Setelah melihat paket-paket tempat yang dituju, kami pun semua satu persatu menaiki kuda untuk menaiki gunung di Pahalgam.
Pahalgam

Ini kali pertamaku berkuda, setelah naik diatas pelana, kuda kami pun berjalan, disini baru aku tahu makna sehat seperti kuda. Jalan yang dilewati sangat terjal dan berbatu, tapi kuda-kuda ini bisa melewati dengan mudah. Selama naik keatas gunung adrenalin terus naik dan jantung berdegub kencang.

Setelah sampai keatas, kengerian selama naik terbayar dengan view yang menawan. Maha sempurna Tuhan semesta yang telah menciptakan pemandangan yang sedang kami nikmati saat itu. Segera kami mengabadikan dengan berfoto-foto bersama dan merebahkan diri untuk sekedar beristirahat sambil kembali menikmati pemandangan. Setelah puas kami turun dari pegunungan kembali dengan kuda dan dengan dag dig dug seperti disaat naik --mungkin nanti bakal seperti ini ketika naik pelaminan bersamamu :D.

Para pemandu kuda di Pahalgam
Setelah semua terkumpul, kami diantarkan menuju Dal Lake, tempat dimana kami akan menginap selama kami disana. Dal Lake ini merupakan salah satu tempat yang benar-benar aku impikan untuk kudatangi, dan kali ini aku bisa menginap disana, rasanya benar-benar seperti ketika baru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dirimu menerima #eh.
Houseboat di Dal Lake
Penginapan di Dal Lake ini didominasi oleh House Boat, yaitu rumah-rumah yang berbentuk kapal yang terletak di atas perairan danau Dal ini. Dan tentu saja kami ingin mencoba sensasi menginap di House Boat. Jadilah kami malam itu menginap disana, di hotel ini menyediakan makan malam dan sarapan sebagai bagian dari paketnya. Setelah menyantap makan malam kamipun beristirahat dan menyiapkan tenaga untuk hari berikutnya.

Pagi berikutnya kami berangkat menuju gulmarg, dengan dress code yang sudah disesuaikan untuk mengunjungi salju kamipun segera melaju kesana. Baru menaiki jalan yang dilewati saja sudah terlihat keindahan puncak gunung dari Gulmarg. Hamparan Salju disepanjang jalan sudah menyita perhatian kami. Terutama yang belum pernah sekalipun bertemu salju, yes itu aku.
Gulmarg
Sampai di Gulmarg, kita harus menaiki gondola untuk menuju kesana, disini ada dua phase gondola yang bisa kita naiki. Kami memutuskan untuk langsung menuju phase 2 yang paling puncak agar bisa melihat salju lebih banyak. Setelah membayar kamipun naik gondola menuju keatas puncak Gulmarg, pemandangan salju dibawah kami menambah semangat untuk segera naik sampai keatas.
Pemandangan Gulmarg saat di gondola
Begitu sampai diatas, langsung saja beberapa dari kami dengan semangat berapi-api menuju ke gundukan salju. Disini kita akan ditawari untuk bermain ski dengan pengawasan yang sudah ahli. Awalnya aku berniat untuk mengambil ski, ya kapan lagi bisa main ski di salju beneran. Ketika naik beberapa langkah, nafasku terasa berenti. Kucoba naik lagi, dan makin susah bernafas, oh noooooooo, why why why.
Abaikan modelnya, fokus view belakang
Tak hanya aku, ada teman yang juga merasakan hal yang sama, bahkan hidungnya sampai berdarah. Kuputuskan untuk tidak bermain ski dan berenti sejenak untuk mengatur nafas, ternyata di phase 2 ini memang tekanan udaranya rendah dan kita sebisa mungkin sebelum sampai diatas tadi mempersiapkan diri dulu di phase satu. Akhirnya aku hanya bisa bermain-main salju seadanya dan segera beristirahat.

Setelah turun ke phase 1 ternyata pemandangan disini juga tak kalah bagus, untuk berikutnya aku mungkin akan lebih banyak dulu bermain di phase 1 baru kemudian lanjut ke phase 2, tapi itu kalau kondisi memungkinkan, sebaiknya sebelum berangkat ke tempat bersalju kita sudah menjaga kondisi tubuh dengan berolahraga teratur. Apakah saya berolaraga sebelumnya? Anda tahulah jawabannya.  Setelah puas di Gulmarg, kamipun kembali lagi ke Dal Lake.

Hari selanjutnya, seharusnya kami menuju Sonamarg dan Tulip Garden. Karena situasi di Sonamarg yang sedang tak memungkinkan, kami tidak bisa masuk kesana. Jadilah kami hanya ke Tulip Garden. Tulip Garden Srinagar merupakan taman tulip terbersar di Asia, bisa kulihat sendiri dari banyaknya bunga-bunga tulip yang beraneka warna disini. Melihat aneka bunga yang beragam nan indah ini, ingin rasanya aku memetik satu dan memberinya kepadamu :D.
Tulip Garden Srinagar
Setelah selesai di Tulip Garden, kami meminta untuk menuju pasar terdekat untuk belanja sekedar oleh-oleh dan kenang-kenangan untuk kami sendiri. Aku sempat membeli beberapa oleh-oleh kecil yang nantinya kubagikan untuk keluarga dan teman-teman terdekat. Untuk urusan oleh-oleh aku sudah biasa menebalkan telinga kalau ditanya-tanya setelah pulang nanti.
Tulip Garden
Setelah selesai berbelanja, kami kembali lagi ke Dal Lake dan ini merupakan malam terakhir kami disana. Malam terakhir kami sempat menjelajah Dal Lake dengan shikara (perahu kecil khas kashmir) kemudian berkemas dan bercengkrama sembari menikmati malam terakhir kami di sana. Rasanya hati belum rela untuk pulang secepat itu dari sana, tapi waktu tak memungkinkan, pekerjaan sudah menanti di tanah air --kok bahasaku jadi melow*.

Pagi berikutnya kami kembali ke Delhi dan malamnya terbang ke Kuala Lumpur, India oh India, separuh hatiku sudah kutinggalkan disana, pasti aku akan kembali lagi secepatnya. Takkan cukup sekali tulisan untuk menggambarkan keindahan India, akan kutuangkan lagi satu persatu cerita perjalanan di India ini ke dalam tulisan berikutnya.

Don’t stop dreaming because everything comes from dream.

13 comments:

  1. So much dramas haha. Ditunggu cerita paspor hilang. Itu paling seru kayaknya hwhwhw

    Omnduut.com

    ReplyDelete
  2. Manjah...pengen melok trip wowo next time ya

    ReplyDelete
  3. aiihhh seru banget cerita dramanya... aku penasaran sama cerita paspor.. hahahha

    ReplyDelete
  4. Selalu ada cerita yang tidak pernah terbayangkan. India memang mengagumkan, dan banyak teman yang bercerita bagaimana budaya di sana dan lainnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. India super ngangenin mas, tahun depan kesana lagi

      Delete
  5. ya ampun deg2an baca ceritanya, awalnya drama, tapi endingnya manis ya Mas TFS :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Alhamdulillah, sport jantung diawal saja, sisanya manis

      Delete
  6. Nunggu cerita temennya yg disrinagar sm kehilangan passport :D

    ReplyDelete
  7. Akhirnya sampai India juga ya Kak. Kok ngga diabisin semua nagian utara dan selatannya??

    ReplyDelete
  8. Halo salam kenal, saya Ikhsan dan berencana mau ke Kashmir bulan depan. Mau tanya berapa lama dari Srinagar ke Gulmarg? Apa cukup sehari untuk explore Gulmarg atau naik gondola? Terima kasih sblmnya :)

    ReplyDelete